Thursday, 29 November 2012

Makalah Manajemen Pendidikan


PEMBAHASAN


A.       Pengertian Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan adalah suatu badan yang berusaha mengelola dan menyelengglarakan kegiatan-kegiatan sosial, kebudayaan, keagamaan, penelitian keterampilan dan keahlian.  yaitu dalam hal pendidikan intelektual, spiritual, serta keahlian/ keterampilan. Sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan.[1]

Tugas dan fungsi utama lembaga pendidikan adalah mengkoordinasi, melaksanakan, memantau dan menilai penjamin mutu (Quality Assurance) dan peningkatan kualitas (Quality Improvement) proses pendidikan di UMK.

Secara rinci tugas lembaga pendidikan adalah :
1.      Merencanakan program penjamin mutu dan peningkatan kualitas proses pendidikan di UMK dalam aspek kurikulum, sumber daya manusia, metode pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar.
2.      Menilai dan memantau pelaksanaan penjamin mutu dan peningaktan kualitas aspek kurikulum, sumber daya manusia, metode pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar.
3.      Mengkoordinasi pelaksanaan penjamin mutu dan peningkatan kualitas proses pendidikan di UMK dalam aspek kurikulum, sumber daya manusia, metode pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar di UMK.
4.      Melaksanakan pelatihan kepada sumber daya manusia dalam rangka penjamin mutu dan peningkatan kualitas proses pendidikan di UMK.
5.      Mengadministrasikan, menghimpun dan menginformasikan aspek-aspek penjamin mutu dan peningkatan kualitas proses pendidikan di UMK.





B.       Fungsi dan Peranan Lembaga Pendidikan

a.           Pada zaman globalisasi sekarang ini banyak orang yang menganggap bahwa pendidikan itu adalah suatu hal yang sangat penting. Melalui pendidikan yang di miliki oleh seseorang, ia dapat memperoleh hal positif dalam proses mengembangkan kehidupannya kearah yang lebih baik. Oleh karena itulah banyak pula hal positif yang di peroleh dalam berbagai bidang dengan adanya suatu lembaga pendidikan. Di antaranya adalah sebagai berikut :

b.        Bidang Ekonomi : Dengan adanya Lembaga pendidikan maka individu dapat melakukan suatu perbaikan ekonomi kehidupannya dan tentunya bermanfaat untuk keluarganya dan masyarakat. Melalui pendidikan seseorang dapat memperbaiki kehidupannya dari aspek financial atau pendapatan yang di terima sesuai dengan tingkat strata yang ia miliki.

c.          Bidang Sosial : Pentingnya lembaga pendidikan dalam bidang ini adalah dapat mengahasilkan output yang memiliki tingkat intelektual yang baik setidaknya dapat mengontribusikan dirinya kepada masyarakat, menjaga hubungan yang baik antar manusia, dan ikut berperan dalam peradaban masyarakat dengan mengembangkan potensi yang ada.

d.       Bidang Politik : Seorang yang berpendidikan tentu paham dengan hak dan kewajibannya sebagai Warga Negara yang baik, melalui berbagai upaya yang dilakukan demi meningkatkan martabat bangsa dan Negara. Lalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik untuk menjalankan suatu negara yang demokratis dan berupaya untuk mengambil peran yang penting di dalamnya.

e.       Bidang Kultur : Dengan adanya lembaga pendidikan setidaknya dapat menjaga nilai-nilai baik di masyarakat dan dapat mengembangkan potensi atau nilai-nilai itu untuk membentuk suatu peradaban kearah yang lebih baik.

f.       Bidang Pendidikan : Pendidikan merupakan proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya, lalu mampu mengembangkannya dan setidaknya dapat memberikan suatu pelayanan kepada masyarakat dalam bidang tertentu. Transformasi ini maksudnya adalah pendidikan dapat membuat seseorang dapat hidup dengan ilmu yang ia miliki. Karena dengan ilmu kita harus dapat memiliki nilai guna dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun keadaanya.
g.      Bidang Spiritual : Melalui ilmu yang kita miliki, kita dapat terus memahami hakikat kemanusiaan dan melihat kesempurnaan Sang Pencipta. Semakin tinggi pendidikan kita seharusnya membuat kita semakin maju dan merunduk.

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya.

1. Lembaga Pendidikan Keluarga
Sebagai transmisi pertama dan utama dalam pendidikan, keluarga memiliki tugas utama dalam peletakan dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Dikatakan pertama karena keluarga adalah tempat dimana anak pertama kali mendapat pendidikan. Sedangkan dikatakan utama karena hampir semua pendidikan awal yang diterima anak adalah dalam keluarga. Karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, yang bersifat informal dan kodrati. Tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak berikutnya, agar anak dapat berkembang secara baik.
a. Fungsi dan Peranan Pendidikan Keluarga

1.      Pengalaman Pertama Masa Kanak-Kanak

Pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan selanjutnya.

2.  Menjamin Kehidupan Emosional Anak
3 hal yang menjadi pokok dalam pembentukan emosional anak, adalah :
                                          1.Pemberian perhatian yang tinggi terhadap anak, misalnya dengan menuruti kemauannya, mengontrol kelakuannya, dan memberikan rasa perhatian yang lebih.
                                          2. Pencurahan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu dengan berucap lemah lembut, berbuat yang menyenangkan dan selalu berusaha menyelipkan nilai pendidikan pada semua tingkah laku kita.
                                          3. Memberikan contoh kebiasaan hidup yang bermanfaat bagi anak, yang diharapkan akan menumbuhkan sikap kemandirian anak dalam melaksanakan aktifitasnya sehari-hari.



3.      Menanamkan Dasar Pendidikan Moral

Seperti pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Anak akan selalu berusaha menirukan dan mencontoh perbuatan orang tuanya. Karenanya, orang tua harus mampu menjadi suri tauladan yang baik. Misalnya dengan dengan mengajarkan tutur kata dan perilaku yang baik bagi anak-anaknya.

4.  Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
Keluarga merupakan satu tempat awal bagi anak dalam mengenal nilai-nilai sosial. Di dalam keluarga, akan terjadi contoh kecil pendidikan sosial bagi anak. Misalnya memberikan pertolongan bagi anggota keluarga yang lain, menjaga kebersihan dan keindahan dalam lingkungan sekitar.

5.  Peletakkan Dasar-dasar Keagamaan
Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam usaha menanamkan nilai dasar keagamaan. Kehidupan keluarga yang penuh dengan suasana keagamaan akan memberikan pengaruh besar kepada anak. Kebiasaan orang tua mengucapkan salam ketika akan masuk rumah merupakan contoh langkah bijaksana dalam upaya penanaman dasar religius anak.

2. Lembaga Pendidikan Sekolah

Akibat terbatasnya kemampuan orang tua dalam mendidik anaknya, maka dipercayakanlah tugas mengajar itu kepada orang dewasa lain yang lebih ahli dalam lembaga pendidikan formal. Sekolah menjadi produsen penghasil individu yang berkemampuan secara intelektual dan skill.

1. Fungsi Lembaga Sekolah
a. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik
b. Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
c. Efisiensi. Pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis, juga jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi pendidikan anak dan juga bagi orang tua.
d. Sosialisasi, yaitu proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
e.  Konservasi dan transmisi kultural, yaitu pemeliharaan warisan budaya. Dapat dilakukan dengan pencarian dan penyampaian budaya pada anak didik selaku generasi muda.
f.  Transisi dari rumah ke masyarakat. Sekolah menjadi tempat anak untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab anak sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.

2. Peranan Lembaga Sekolah

a. Tempat anak didik belajar bergaul, baik sesamanya, dengan guru dan dengan karyawan.
b.  Tempat anak didik belajar mentaati peraturan sekolah.

3. Tanggung Jawab Sekolah
1.    Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan menurut ketentuan yang berlaku.
2.    Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan dan tingkat pendidikan.
3.    Tanggung jawab fungsional adalah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana pendidikan yang menerima ketetapan ini berdasarkan ketentuan jabatannya.

3.    Lembaga Pendidikan Masyarakat

Masyarakat sebagai lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi seseorang. Masyarakat mempunyai peranan penting dalam upaya ikut serta menyelenggarakan pendidikan, karena membantu pengadaan sarana dan prasarana dan menyediakan lapangan kerja. Partisipasi masyarakat membantu pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dalam masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.    Diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah
2.    Peserta umumnya mereka yang tidak bersekolah atau drop out
3.    Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek
4.    Peserta tidak perlu homogen
5.    Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis
6.    Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus
7.    Keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan

C. Bentuk-Bentuk Lembaga Pendidikan

1. Lembaga pendidikan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama, karena dalam keluarga inilah anak-anak mendapatkan bimbingan dan paling banyak memperoleh pendidikan

2. Lembaga pendidikan sekolah
Yang dimaksud dengan pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diperoleh secara teratur, sisitematis, bertingkat dan dengan mengikuti syaraf yang jelas.

3. Lembaga pendidikan di masyarakat
Masyarakat diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri.
Pendidikan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pendidikan diselenggarakan diluar sekolah
b. Peserta didik perlu homogen
c. Ada waktu belajar dan metode normal, serta evaluasi yang sisitematis
d. Isi pendidikan bersifat prakti dan khusus



Contoh Soal Spikologi


1.       Gestalt merupakan istilah dari bahasa jerman yang berarti ...
a.       Belajar                          c. Totalitas
b.      Memory                      d. Pemikiran


2.       Teori gestalt pertama kali di pelopori dan di kembangkan oleh...
a.       Kurt Lehwin                                c. Wolfgang Kohler
b.      Max wertheimer      d. Kurt Koffka


3.       Psikologi gestalt lahir kedunia dan pertama kali berkembang di...
a.       Arab                              c. Argentina
b.      Amerika                       d. Jerman


4.       Dibawah ini yang  termasuk dalam aplikasi gestalt , kecuali...
a.       Belajar                          c. Insight
b.      Pengalaman               d. Memory


5.       Penelitian yang di lakukan pada monyet merupakan teori dari..
a.       Wolfgang Kohler                      c. Kurt Koffa
b.      Max Wertheimer                     d. Kurt Lehwin

6.       Pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan merupakan pengertian dari...
a.       Gestalt                         c. Insight
b.      Memory                      d. Belajar

7.       Penerapan Insight dapat disajikan dalam beberapa prinsip yaitu ...
a.       Belajar itu tidak berdasarkan keseluruhan
b.      Belajar berkat ‘’ Insight‘’
c.       Tidak membutuhkan pengalaman
d.      Tanpa belajar kita akan tertinggal

8.       Melihat Lampu kedap-kedip dan seolah-olah lampu itu mengejar mengikuti kita, merupakan teori dari...
a.       Kurt Koffa                   c.  Matthew H. Olson
b.      Max Wertheimer     d.  Hergenhahn B. R

9.       Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme, kata behaviorisme yang berarti ...
a.       Kekuatan                     c. Tingkah Laku
b.      Gaya hidup                 d. Pemahaman

10.   Konsep Life Space ( medan) merupakan teori dari ...
a.       Kurt Lewin                  c. Max Wertheimer
b.      A HA Khohler             d. Brentano

Makalah pembelajaran Individual


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Peningkatan kualitas sumber daya manusia diIndonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia ini juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperanaktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan pendidikan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Proses pengajaranakan lebih hidup dan menjalin kerja sama diantara siswa, maka proses pembelajaran dengan para digmalama harus diubah dengan para digmabaru yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajarakan dapat meningkatkan kerja sama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik.

 Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, guru/pendidik, pembelajaran, peserta. Dimana semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta. Berdasarkan hal tersebut pendidik di tuntut harus mampu menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar dengan menyenangkan. Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran. Peserta didik harusdi siapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik.
Berdasarkan pandangan di atas , maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan penedekatan yang tepat .Salah satu solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang membuat siswa lebih senang dan lebih termotivasi untuk belajar.

B.     Tujuan dari makalah ini yaitu mendeskripsikan konsep dasar Teaching individual.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN TEACHING INDIVIDUAL
Teaching Individual adalah pembelajaran yang memetik beratkan bantuan dan bimbingan kepada masing2 individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada klasikal tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual , pembelajaran memberi bantuan kepada masing2 pribadi. Sedangkan pada pembelajaran klasikal , pembelajaran memberi bantuan individual secara umum.

Ciri- ciri yang menonjol pada pembelajaran individual dapat di tinjau dari segi
1.      Tujuan pembelajaran
2.      Pembelajaran sebagai  subyek yang belajar
3.      Pembelajar sebagai fasilator
4.      Program pembebelajaran
5.      Orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran

Tujuan pembelajaran individual  adalah sebagai beikut :
a.       Pemberian kesempatan dan keleluasaan pembelajar untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri . dalam pembelajaran pembelajar menggunakan ukuran-ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pembelajaran individual  awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual , sedangkan pada pembelajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan rata-rata kelas . pembelajaran menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas.
b.      Pengembangan tiap individusecara optimal . tiap individu memiliuki paket pembelajaran sendriri-sendiri. Yang sesuai dengan tingkat belajarnya sesuai individual juga.

Posisi  pelajar dalam pembelajaran individual adalah :
a.       Posisi pelajar bersifat sentral
b.      Keleluasan belajar berdasarkan kemampuan sendiri
c.       Kebebasan menggunakan waktu belajar
d.      Keleluasaan dalam mengontrol , kegiatan, kecepatan, daN itensitas belajar dalam rangka mencapai tujuan
e.       Pelajar dapat menyusun program belajar dan melakukan penilaian atas hasil belajar sendiri

Posisi belajar dalam pembelajaran individual  adalah :
a.       Perencanaan kegiatan belajar
b.      Pengorganisasian kegiatan pembelajaran
c.       Penciptaan kegiatan pembuka antara pembelajar dengan pelajar
d.      Fasilitas mempermudah belajar.

peranan pembelajar
1. dalam perencanaan kegiatan belajar adalah :
·         membantu merencanakan kegitan belajar pebelajar, dengan musyawarah pembelajar membantu pebelajar menetapkan tujuan belajar.
·         membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar
·         berperab sebagai penasehatatau pembimbing
·         membantu pebelajar dalam penilaiaanhasil belajar dan kemajuan sendiri.
2. dalam pengorganasasian gegiatan belajar adalah:
·         memberikan orientasi umum sehubungan dengan dengan belajar topik tertentu
·         membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan
·         mengkoordinasiakankegiatan dengan memperhatiakan kemajuan, materi, media, dan sumber.
·         membagi perhatian pada sejumlah pebelajar menurut tugas dan kebutuhan pebelajarmemberikan baliakn pada setiap pebelajar
·         mengakhiri kegiatan belajar suatu unjuk hasil belajr berupa laporan atau pameran hasil kerja.

pebelajar sebagai falisator:
tujaun dakah mempermudah proses belajar. cara yang dilakukan antara lain :
1.      membimbing belajar
2.      penyediaan sumber belajar
3.      memberi pnguatan belajar
4.      menjadi teman dalam menngevaluasi pelaksaan dan hasil belajar
5.      memberi kesempatan pebelajar untuk memperbaiki diri

Program pembelajaran individual  adalah :
Dapat di laksanakan secara efektif jika mempertimbangkan syarat-sayarat berikut
a.       Di sesuaikan dengan kebutuhan dengan kemAmpuan belajar
b.      Tujuan pembelajaran di buat dan dimengerti  pelajar
c.       Prosedur dan cara kerja di mengerti oleh pelajar
d.      Kriteria keberhasilan di mengerti oleh pelajar
Program pembelajaran individual merupakan usaha memperbaiki kelemahan pembelajaran klasikal
1.      Dari segi pelajar , program pembelajaran individual lebih efektif , sebab sesuai dengan program sendiri.
2.      Dari segi pembelajar, program pembelajaran individual yang di kaitkan dengan jumlah pembelajar tampak tampak kurang efesien, sebab jumlah 40-an memerlukan perhatian besar bagi pembelajaran , hal ini merupakan tugas yang melelahkan.

KESIMPULAN
Programpembelajaranindividualmerupakanusahamemperbaikikelemahanpengajaranklasikal.Darisegikebutuhanpebelajar,programpembelajaranindividuallebihefektif,sebabsiswabelajarsesuaidenganprogramnyasendiri.Darisegiguru,yangterkaitdenganjumlahpebelajar,tampnkkurangefisien.Jumlahsiswasebesarempatpuluhorangmemintaperhatianbesarpadaguru,danhalituakanmelelahkanguru.
Darisegiusiaperkembanganpebelajar,makaprogrampembelajaranindividualcocokbagisiswaSLTPkeatas.Halinidisebabkanoleh:
(i)umumnyasiswasudahdapatmembacadenganbaik,
(ii)siswamudahmemahamipetunjukatauperintahdenganbaik
,(iii)siswadapatbekerjamandiridanbekerjasamadenganbaik.
Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk diprogramkan secara individual. Bidang studi yang dapat diprogramkan secara individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA, dan IPS bagi bahan ajaran tertentu.
Bagi bidang studi musik, kesenian, dan olahraga yang bersifat perorangan, juga cocok untuk program pembelajaran individual.

Program pembelajaranindividualdapatdilaksanakansecaraefektif,bilamempertimbangkanhal-halberikut:
(i)disesuaikandengankebutuhandankemampuansiswa.
(ii)tujuanpembelajarandibuatdandimengertiolehsiswa,
(iii)prosedurdancarakerjadimengertiolehsiswa
(iv)kriteriakeberhasilandimengertiolehsiswa
(v)keterlibatangurudalamevaluasidi mengerti siswa



Makalah Reinforcement Skill



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Secara psikologis setiap orang membutuhkan penghargaan terhadap sesuatu usaha yang telah dilakukannya. Melalui penghargaan yang diperolehnya, seseorang akan merasakan bahwa hasil perbuatannya dihargai, mendapatkan tempat dan oleh karenanya akan menjadi pemacu untuk berusaha meningkatkan prestasi atau berbuat yang lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.
Penghargaan yang diberikan terhadap seseorang yang telah menunjukkan perbuatan baik,  tidak selalu harus dalam bentuk materi, akan tetapi bisa dilakukan dalam bentuk-bentuk lain seperti memberikan pujian dengan ucapan misalnya: terima kasih, bagus, sikapmu sangat baik, pakaianmu rapih atau kata-kata lain yang sejenis, dimana seseorang yang mendapat pujian atau penghargaan tersebut merasa dihargai.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian keterampilan memberi penguatan diantaranya adalah :
JJ. Hasibuan mendefinisikan memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara positif suatu tingkah laku tertentu  siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.
Moh Uzer Usman menerangkan arti keterampilan memberi penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”.
Made Pidarta menyebutkan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Penguatan terhadap individu-individu sehingga dia konsisten dengan tingkah lakunya yang sudah baik serta meningkatkannya menjadi lebih baik”.
 A. Mursal dan H.M. Taher menjelaskan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Suatu alat pendidikan yang diberikan kepada murid sebagai imbalan terhadap prestasi belajar yang dicapai”.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa keterampilan memberi penguatan merupakan suatu alat pendidikan yang menyenangkan berupa pujian, hadiah dan tanda penghargaan yang bertujuan untuk memperkuat tingkah laku anak didik yang sudah baik, sukses dalam belajar serta berprestasi yang diberikan sebagai imbalan atas prestasinya. Sehingga, prestasi atau tingkah laku yang baik itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta akan berulang di masa yang akan datang.
Pujian melalui kata-kata atau memberikan respon positif terhadap perilaku yang telah ditunjukkan oleh seseorang disebut dengan “penguatan”. Dengan demikian yang dimaksud dengan penguatan (reinforcement) pada dasarnya adalah “suatu respon yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan baik, yang dapat memacu terulangnya perbuatan baik tersebut” Dalam pengertian yang lain dikemukakan oleh Wina Sanjaya, bahwa keterampilan dasar penguatan (reinforcement) adalah “Segala bentuk respon yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik atas perbuatan atau respon siswa”

B.     TUJUAN
Tujuan dari Reinforcement skill ini adalah untuk memperjelas atau memperkuat tingkah laku anak didik yang sudah baik, sukses dalam belajar serta berprestasi yang diberikan sebagai imbalan atas prestasinya. Sehingga, prestasi atau tingkah laku yang baik itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta akan berulang di masa yang akan datang.
Dari pengertian keterampilan penguatan (reinforcement) yang telah disampaikan di atas, secara substantif memiliki kesamaan terutama dilihat dari beberapa unsur sebagai berikut:
1. Suatu respon; yaitu respon atau tanggapan yang diberikan atau ditujukan kepada seseorang (siswa) untuk memberikan apresiasi sekaligus sebagai informasi yang terkait dengan perilaku atau kinerja yang telah ditunjukkannya.
2. Modifikasi tingkah laku; modifikasi tingkah laku yaitu terkait dengan bentuk atau jenis respon yang diberikan sebagai bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa.
3. Dorongan atau koreksi; melalui pemberian penguatan dalam bentuk respon apapun harus ditujukan pada upaya memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih meningkatkan prestasi belajarnya (akademik maupun non akademik).

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN REINFORCEMENT SKILL
Reinforcement adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang betujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi siswa atas jawaban atau perbuatannya sebagai suatu motivasi ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.
Penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Pemberian hadiah maupun pemberian hukuman merupakan respon seseorang kepada orang lain karena perbuatannya. Pemberian hadiah merupakan respon positif, sedangkan pemberian hukuman merupakan respon negatif. Namun, kedua respon tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mengubah tingkah laku seseorang dari yang kurang positif menjadi positif, atau yang dari positif menjadi lebih positif lagi. Pemberian respon dalam proses interaksi edukatif disebut pemberikan penguatan karena hal tersebut akan membantu sekali dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan kata lain, pengubahan tingkah laku siswa (behavior modification) dapat melakukan dengan memberikan penguatan.
Keterampilan memberikan penguatan merupakan keterampilan yang harus di kuasai oleh guru karena penguatan yang di berikan kepada siswa akan membangkitkan semangat murid dalam melakukan kegiatan pembelajaran, semangat siswa yang tinggi akan meningkatkan daya tangkab ilmu sehingga nantinya tujuan yang ingin dicapai oleh guru dapat di raih dengan baik. Keterampilan memberikan penguatan sangat dekat dengan motivasi, sehingga di awal ini akan di paparkan mengenai motivasi dan mengapa begitu pentingnya motivasi dalam belajar.
Dalam kaitannya dengan teori keterampilan memberi penguatan (penguatan) dikenal 2 macam penguatan, yaitu :
a)       Keterampilan memberi penguatan positif
Keterampilan memberi penguatan positif diberikan pada respon yang baik atau yang sesuai dengan harapan, misalnya bila siswa mendapat skor yang tinggi ia berhak menerima pujian, hadiah dan tanda penghargaan. Hal ini sebagai penguat atas tingkah laku siswa yang baik agar siswa yang bersangkutan tetap konsisten dengan tindakannya yang sudah baik itu serta frekuensinya berulang dimasa yang akan datang.
b)      Keterampilan memberi penguatan negatif
Bila seorang guru mendapati seseorang yang berbuat tidak baik, tidak perlu memberikan respon yang kurang menyenangkan semisal celaan atau hukuman. Namun untuk membuat anak jera hendaknya para pendidik atau guru menggunakan cara-cara yang dapat menjauhkan anak melakukan perbuatan yang tidak baik dengan menggunakan pendekatan kekeluargaan serta berbentuk persuasif. Apabila seorang pendidik ingin mencegah anak berbuat buruk lebih baik menggunakan cara dengan membiasakan mereka seolah-olah tidak diperhatikan (metode ta’rudh) bukan dengan cara langsung menegurnya dengan keras atau kasar (metode tasrich). Bahkan mereka sebaliknya diperlakukan dengan kasih sayang, karena dengan demikian anak tidak akan selalu berbuat buruk. Menurut Al-Ghozali sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Futuh, et.al, menegur secara keras akan mengakibatkan rasa takut dan menimbulkan keberanian menyerang orang lain atau melawan serta mendorong timbulnya keinginan untuk tetap melakukan pelanggaran.
 
B. TUJUAN DAN MANFAAT PENGUATAN
Pemberian respon (penguatan) terhadap perilaku belajar siswa, baik melalui kata-kata (verbal) maupun non verbal seperti dengan isyarat-isyarat tertentu, secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan proses dan hasil pembelajaran, terutama yaitu terhadap penanaman rasa percaya diri, dan membangkitkan semangat belajar siswa.
Adapun beberapa tujuan dan manfaat konkrit yang akan dirasakan oleh siswa melalui penerapan keterampilan penguatan, antara lain yaitu:
1. Meningkatkan perhatian siswa; Seperti telah disampaikan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa perhatian merupakan kunci yang sangat berharga dalam proses pembelajaran. Perhatian siswa sifatnya tidak menetap, kadang –kadang tinggi, sedang dan rendah. Guru sebagai pengelola pembelajaran memiliki kewajiban profesional untuk selalu membangkitkan perhatian siswa, sehingga pada saat perhatian siswa mengalami penurunan, maka melalui pemberian penguatan yang tepat baik jenis penguatannya, maupun saat atau waktu pemberiannya, maka perhatian siswa diharapkan akan meningkat lagi.
2.  Membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa; selain perhatian yang biasa mengalami kondisi pluktuasi (kandang-kadang tinggi, sedang, dan rendah) ialah motivasi. Dalam kaitan ini guru pun memiliki kwajiban yang sama seperti halnya keharusan membangkitkan perhatian, yaitu bagaimana agar motivasi siswa bisa terus terjaga sehingga selalu memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.
3. Memudahkan siswa belajar; tugas guru sebagai fasilitator pembelajaran bertujuan untuk memudahkan siswa belajar. Adapun yang dimaksud dengan memudahkan belajar siswa, bukan berarti materinya dipermudah, akan tetapi melalui perannya sebagai fasilitator pembelajaran, guru mampu mengelola lingkungan pembelajaran (sumber pembelajaran) agar berinteraksi dengan siswa secara maksimal sehingga menjadi jalan kemudahan bagi siswa untuk memahami terhadap materi yang sedang dipelajarinya
4.  Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa; kepercayaan diri yang dimiliki oleh setiap siswa merupakan modal dasar yang sangat berharga dalam proses pembelajaran belajar. Sebaliknya perasaan khawatir, ragu-ragu, takut salah, merasa minder dan sifat-sifat lain yang sejenis, sangat tidak baik dimiliki oleh siswa.
5.  Memelihara iklim kelas yang kondusif; suasana kelas yang menyenangkan, aman, dan dinamis, akan mendorong aktivitas belajar siswa lebih maksimal. Melalui penguatan yang dilakukan oleh guru, suasana kelas akan lebih demokratis sehingga siswa akan lebih bebas untuk mengemukakan pendapat, berbuat, mencoba, dan melakukan perbuatan-perbuatan belajar lainnya.

C.     BENTUK / JENIS PENGUATAN
Pada garis besarnya model penguatan dapat dikelompokkan kedalam dua model, yaitu: 1. penguatan verbal dan 2. penguatan non-verbal. Kedua bentuk/jenis penguatan ini memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai instrumen untuk memberikan respon dari guru terhadap respon dari siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran.
Perbedaanya terletak pada penerapannya yaitu tergantung pada bentuk respon dari siswa, ada yang cocok dengan penguatan verbal dan ada yang cocok dengan penguatan non-verbal, bahkan mungkin ada yang lebih cocok dengan menggunakan model gabungan penguatan (verbal dan non verbal).
 Adapun jenis-jenis atau bentuk penguatan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Penguatan verbal
Penguatan verbal merupakan respon yang diberikan oleh guru terhadap perilaku atau respon belajar siswa yangdisampaikan melalui bentuk kata-kata/ lisan atau kalimat ucapan (verbal). Penguatan melalui ucapan lisan (verbal) secara teknis lebih mudah dan bisa segera dilaksanakan untuk merespon melalui ucapan terhadap setiap respon siswa.
Misalnya penguatan verbal dalam bentuk :
a. kalimat seperti: kata bagus, baik, luar biasa, ya, betul, tepat, atau mengangkat jempol dan lain sebagainya.
b. penguatan verbal dalam bentuk kalimat seperti: pekerjaanmu rapi sekali, cara anda menyampaikan argumentasi sudah tepat, berpikir anda sudah sistematis, makin lama belajar anda nampak lebih disiplin, kelihatannya anda hadir selalu tepat waktu, atau bentuk-bentuk pujian lain yang sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan oleh siswa.
2.      Penguatan Non-Verbal
Penguatan non verbal sebaliknya dari penguatan verbal, yaitu respon terhadap perilaku belajar (respon) siswa yang dilakukan tidak dengan kata-kata atau ucapan lisan (verbal), melainkan dengan perbuatan atau isyarat-isyarat tertentu yang menunjukkan adanya pertautan dengan perbuatan belajar siswa. Adapun jenis-jenis respon (penguatan) yang digolongkan kedalam penguatan non-verbal antara lain sebagai berikut:
a.       Mimik dan gerakan badan
Mimik muka dan gerakan badan tertentu yang dilakukan oleh guru seperti: mengekspresikan wajah ceria, senyuman, anggukan kepala, mengacungkan ibu jari, tepukan tangan, dan gerakan-gerakan badan lainnya sebagai tanda kepuasan guru terhadap respon siswa.
b.      Gerak mendekati
Gerak mendekati dilakukan guru dengan cara menghampiri siswa, berdiri disamping siswa atau bahkan duduk bersama-sama dengan siswa. Pada saat guru mendekati, siswa merasa diperhatikan sehingga siswa akan merasa senang dan aman.
c.       Sentuhan
Penguatan dalam bentuk sentuhan yaitu dilakukan dengan adanya kontak fisik antara guru dengan siswa secara langsung.

KESIMPULAN

1.      Penguatan (reinforcement) pada dasarnya adalah suatu respon yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan siswa, yang dapat memacu terulangnya perbuatan baik tersebut.

2.      Penguatan adalah segala bentuk respon yang merupakan bagian darimodifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik atas perbuatan atau respon siswa.

3.      Tujuan dan manfaat penguatan antara lain yaitu:
a.       Meningkatkan perhatian siswa;
b.      Membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa
c.       memudahkan siswa belajar
d.      Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa
e.       memelihara iklim kelas yang kondusif.

4.      Bentuk penguatan terdiri dari dua jenis yaitu :
a.       penguatan verbal, yaitu penguatan melalui kata-kata atau ucapan secara lisan.
b.      penguatan non-verbal, yaitu penguatan melalui perbuatan atau isyarat-isyarat tertentu yang menunjukkan adanya pertautan dengan perbuatan belajar siswa

5.      Prinsip penguatan antara lain yaitu:
a.       Kehangatan dan keantusiasan
b.      Kebermaknaan.
c.       menghilangkan kebiasaan penguatan yang negatif.





Lailahaillallah.. Muhammadurrasulullah..

Lailahaillallah.. Muhammadurrasulullah..

SLIDER WIDGET