Rabu, 05 Desember 2012

Makalah Metode Studi Islam


BAB  1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam abad ke 20 ini, di satu pihak orang mengamati kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan mendalam, namun bersamaan dengan itu dipihak lain orang mengamati dekadensi kehidupan beragama dikalangan umat manusia. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tampak jelas memberikan buah yang sangat menyenangkan bagi kehidupan lahiriyah umat manusia secara luas. Dan manusia merasa telah mampu mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara besar-besaran.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi kurun ini, secara bertahap tapi pasti membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qur'an itu benar dan mengagumkan. Sejak bentuk tulisan yang paling primitif dengan bahan kertas yang amat sederhana manusia memulai abad-abad yang gemerlapan oleh sinar ilmu pengetahuan itu, manusia telah menulis berjuta-juta buku, dan dapat menyelesaikan penulisan beribu-ribu kata dalam waktu yang amat singkat. Dna yang paling aktual serta masih mengagumkan di kalangan manusia adalah penemuan alat “komputer” yang begitu besar manfaatnya.
Sepanjang yang kita ketahui, rasanya belum ada sesuatu agamapun yang melampaui dalamnya pandangan terhadap ilmu pengetahuan sebagaimana pandangan yang diberikan Islam. Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukkannya, sebagai sesuatu yang utama dan mulia.
Sejak awal turunnya wahyu kepada Muhammad Saw (al-Qur'an), masalah ilmu pengetahuan merupakan pangkal perintah Allah kepada manusia. Perintah membaca merupakan kunci mencari dan mengulas ilmu pengetahuan itu, “membaca” apakah yang hendak dibaca tanpa ada sesuatu yang tersurat? Dan ini merangsang manusia untuk giat menulis, meneliti, mengobservasi, menganalisis, dan kemudian merumuskannya sebagai teori ilmu, membacapun tak dapat jalan tanpa memiliki pengetahuan membaca dan ketrampilan bahasa dan pandai menulis adalah rangkaian dari sarana dalam rangka menimba ilmu pengetahuan itu.
Dari sini kita dapat mengambil pengertian bahwa Allah benar-benar menyatakan betapa tingginya nilai ilmu itu. Karena itu Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu, baik disisi Allah maupun disisi manusia.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan”. (QS. 58 : 11).
Sebagai makhluk yang diberi kelebihan-kelebihan, manusia dijadikan penguasa di bumi dengan tugas, kewajiban serta tanggung jawabnya, dia harus melalukan pengelolaan yang baik untuk itu ia harus mengetahui dan memahami benar-benar sifat dan kelakuan alam sekitarnya yang harus dikelolanya itu, baik yang tak bernyawa maupun yang hidup beserta masyarakatnya, pengetahuan dan pemahaman ini dapat diperolehnya karena manusia hidup di dalam, dan dapat menginderakan alam fisis di sekelilingnya. Dan diharapkan orang dapat memperoleh pengetahuan yang berguna baginya dalam menjalankan peranannya sebagai khalifah di bumi.
Pemeriksaan dengan perhatian yang besar untuk mengetahui sesuatu memerlukan observasi yang berulang-ulang secara teliti serta pengumpulan data secara sistematis yang kemudian dianalisis untuk memperoleh suatu kesimpulan tentang apa yang diperiksa itu untuk dihimpun sebagai pengetahuan, tetapi analisis terhadap suatu himpunan data untuk mencapai kesimpulan itu memerlukan kemampuan berfikir secara kritis. Namun untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang dapat dihimpun menjadi suatu sistem yang logis atau kesatuan yang rasional yang kita sebut ilmu pengetahuan perlu digunakan pertimbangan yang melibatkan akal. Dan hal inipun diungkapkan dalam ayat lanjutannya yaitu ayat 12 surat an-Nahl yang artinya:
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)

1.2  Tujuan  Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang ingin di capai melalui karya tulis berbentuk makalah ini adalah sebagai berikut :
a.      Memperdalam wawasan tentang pengetahuan islam dan penerapannya dalam perilaku sehari-hari
b.      Mempresentasikan manfaat-manfaat yang dapat dengan adanya pengetahuan tentang islam
c.        Untuk mendapat pemahaman yang sempurna tentang pengetahuan islam ,arti dan perbedaannya

  
BAB 2
ISLAM SEBAGAI PENGETAHUAN ILMIAH

Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah (penelitian) dengan pengamatan panca indra dan penalaran akal budi yang disusun secara sistematika untuk menjelaskan fakta yang sedang dihadapi, yang merangsang panca indra dan pikiran manusia.
Rasa ingin tahu yang bersifat ilmiah dan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang sistematis merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam peradaban Islam. Hal ini tidak mengherankan karena Islam adalah sebuah agama yang rasional tetapi bukan sebuah agama yang rasionalistis (berpijak pada rasio semata). Agama Islam mengembangkan sebuah kesadaran yang tinggi mengenai kedudukan akal sebagai inti dalam tradisi-tradisi agama dan dalam mempertahankan sikap kritis terhadap ilmu pengetahuan. Islam tak hanya menghargai dan menyuruh belajar tapi juga memberikan metode pengamatan yang rasional. Dengan begitu, Islam tidak hanya menghasilkan “ilmuwan-ilmuwan” besar, tetapi juga sebuah tradisi sains yang menyeluruh -sebuah tradisi yang mengintegrasikan obyektifitas ilmiah di dalam Filsafat Islam.[1] Ilmu hadits, yang merupakan dasar bagi moral dan kitab perundang-undangan resmi di dalam Agama Islam, yang memberikan sebuah metodologi tinggi untuk kritik-kritik terhadap penulisan tafsir, atau komentar terhadap ayat-ayat Al Quran, telah pula memperkembangkan sebuah metodologi tinggi (sophisticated) sebagaimana tradisi dalam dunia akademis. Secara bersama-sama, alQuran dan hadits telah dijadikan sebagai dasar bagi semua aktifitas ilmiah untuk penulisan tafsir, keduanya telah mempengaruhi hidup manusia maupun cabang-cabang ilmu pengetahuan alam.
Di bawah pengaruh Islam, sains tumbuh subur dan mempunyai bentuk yang unik. Sarjana-sarjana Eropa Utara yang berkultur latin benar-benar bersimpuh di depan ilmuwan-ilmuwan Muslim di Spanyol dan di pusat-pusat peradaban Islam di sepanjang pantai Laut Tengah, untuk mempelajari dasar-dasar sains dan aspek-aspek lain dari prestasi Islam. Barulah pada abad keenambelas sains dan teknologi Eropa bisa menyamai keunggulan Islam itu.
Tradisi sains dan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Kaum Muslimin betul-betul unik; namun keunikan itu tak hanya terletak di dalam metodeloginya tetapi juga di dalam epistemologinya. Epistemologi Islam mengandung sebuah konsep yang holistik mengenai pengetahuan. Di dalam konsep ini, tidak terdapat perpisahan antara pengetahuan dan nilai-nilai. Pengetahuan dikaitkan dengan fungsi sosialnya dan dipandang sebagai sebuah ciri dari manusia. Dengan demikian terdapatlah sebuah kesatuan antara manusia dengan pengetahuannya.
Tidak ada informasi-informasi khusus yang bebas nilai untuk tujuan-tujuan tertentu. Tidak ada perendahan martabat manusia, pengisolasian, dan pengasingan manusia.
Menurut epistemologi Islam, pengetahuan adalah sebagai sebuah pohon, sedang berbagai sains itu adalah cabang-cabangnya yang tumbuh dan mengeluarkan dedaunan beserta buah-buahan sesuai dengan sifat pohon itu sendiri. Tapi, karena cabang-cabang sebuah pohon tidak tumbuh terus menerus, maka sebuah disiplin tidak perlu dituntut melampaui batas-batasnya. Menuntut sebuah cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan melampaui batas-batasnya akan menjadi sebuah aktivitas yang sia-sia. Bukankah jika sebuah cabang tumbuh terus-menerus, akhirnya ia akan menghancurkan keharmonisan seluruh pohon?
Salah satu di antara artikulasi-artikulasi terbaik mengenai epistemologi ini kita temui dalam Book of knowledge karya Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali (1058-1111). Al Ghazali adalah seorang guru besar di Akademi Nizamiyyah Baghdad.[2] Al ghazali menganalisa pengetahuan berdasarkan tiga buah kriteria:
1. Sumber
- Pengetahuan yang diwahyukan: Pengetahuan ini kita peroleh dari para Nabi dan Rasul, tidak kita peroleh dengan menggunakan
akal seperti ilmu hitung, juga tidak dengan percobaan-percobaan seperti obat-obatan atau dengan pendengaran seperti bahasa-bahasa”.
-Pengetahuan yang tidak diwahyukan: sumber pokok dari “ilmu-ilmu” ini adalah akal, pengamatan, percobaan, dan akulturasi(penyesuaian).

2. Kewajiban-Kewajiban
- Pengetahuan yang diwajibkan kepada setiap orang (fardh al ‘ain): yaitu pengetahuan yang penting sekali untuk keselamatan seseorang, misalnya etika sosial, kesusilaan, dan sebagainya.
- Pengetahuan yang diwajibkan kepada masyarakat (fardh al kifayah): yaitu pengetahuan yang penting sekali untuk keselamatan seluruh masyarakat. Misalnya pertanian, obat-obatan, arsitektur dan teknik mesin.
3. Fungsi Sosial
- Ilmu-Ilmu yang patut dihargai: yaitu ilmu-ilmu (sains) yang berguna dan tak boleh diabaikan “karena segala aktifitas hidup ini tergantung kepadanya…”
- Ilmu-ilmu yang patut dikutuk: termasuk astrologi, magik, studi ilmiah mengenai cara-cara penyiksaan, dan sebagainya.

Di dalam kerangka di atas, sains dan kemanusiaan tidak berdiri sebagai “dua buah kultur” yang saling terpisah tetapi sebagai dua pilar yang memperoleh rasa solidaritasnya yang vital dari keseluruhan kultur manusia. Jadi, di dalam kerangka ini, pengetahuan itu sekaligus bersifat dinamis dan statis. Terdapat perkembangan setahap-demi setahap dalam bentuk-bentuk ilmu pengetahuan (sains) tertentu, sementara terdapat pula kesadaran akan keabadian pengetahuan prinsipil yang diperoleh dari wahyu itu. Kerangka pengetahuan Islam tak pernah menutup mata terhadap pengetahuan yang diwahyukan itu, pengetahuan yang merupakan “matriks” kerangka bagi semua sains.
Tujuan mempelajari sesuatu masalah di dalam Islam adalah karena pentingnya bagi masyarakat atau relevansi sosialnya. Di dalam Islam tidak terdapat ide: sains untuk sains. Islam juga menolak pengertian tentang sains yang utilitarian murni. Legitimasi untuk mempelajari sains kita jumpai dalam AlQuran dimana manusia diperintahkan untuk merenungkan kejadian langit, bumi, dan segala sesuatu yang dikandungnya. Jika engkau mengucapkan dan meyakini Allah Maha Mengetahui, maka engkau tak berhak untuk tetap berada dalam kebodohan.
Di Sini, Islam menekankan pentingnya pengetahuan murni dan menyuruh manusia menuntut pengetahuan untuk kesempurnaan hidupnya.[3] Apakah yang lebih bermanfaat bagi manusia selain pengetahuan yang merupakan hiasan jiwanya dan alat untuk mencapai kesempurnaannya. Namun, nikmat dalam menuntut ilmu itu harus dibarengi dengan manfaatnya dan fungsi sosialnya. Lebih dari sekedar untuk dinikmati, pengetahuan itu harus merupakan alat untuk meraih tujuan-tujuan yang lebih luhur. Setiap ilmu pengetahuan, baik yang berasal dari wahyu maupun yang berasal dari penyelidikan ilmiah dapat berubah menjadi ilmu yang “patut dikutuk” jika buta terhadap tujuan yang sebenarnya.
Bagaimana suatu ilmu pengetahuan menjadi terkutuk? Bila sains itu membawa bencana. Bila ia merugikan masyarakat, bila ia cenderung kepada suatu tingkat abstraksi yang membuat manusia terasing dari saudara-saudaranya, dan bila ia tak menerangi tapi menyesatkan.[4] Epistemologi Islam menghendaki sebuah metodologi yang menyertakan pengalaman batin manusia maupun penginderaan, eksperimen, deduksi dan induksi.
 Pengalaman manusia sebagai makhluk yang sempurna tak hanya mencakup rangsangan-rangsangan fisik dan indera, tetapi mencakup pula intuisi intelektual dan proses-proses psikis. Memisahkan pengalaman fisik dan pengalaman batin akan merendahkan kepribadian manusia, mengasingkan manusia, dan akhirnya menghancurkan manusia. Bagi manusia yang “utuh” semua pengalaman adalah riil seperti riilnya gaya berat. Oleh karena itu semua pengalaman patut dievaluasi dan diselidiki. Mengabaikan salah satu di antara pengalaman-pengalaman itu berarti mengabaikan realitas itu sendiri.

Islam menyuruh penganut-penganutnya untuk mendekati realitas itu secara keseluruhannya. Sebuah pernyataan yang tepat sekali mengenai pengakuan konsep di atas adalah sebuah ucapan yang menyangkal dan menetapkan. “Tidak ada sesuatu realitas pun kecuali Realitas yang Esa” (Laa ilaha Illallah). Semua realitas yang ada hanyalah nisbi dan bergantung kepada Relaitas Yang Esa itu. Segenap ketentuan-ketentuan jagad raya, baik yang berwujud maupun yang tak berwujud, baik yang halus maupun kasar, hanyalah pertanda dari Realitas Yang Esa, darimana ketentuan-ketentuan itu muncul melalui proses penciptaan atau manifestasi diri. Untuk mendapatkan pandangan yang sempurna terhadap realitas itu, penginderaan kita harus dibantu dengan semacam penginderaan yang di dalam Al Quran disebut fu’ad atau Qalb atau mata batin. Mata batin ini adalah semacam intuisi batin atau wawasan yang menurut rangkaian kata-kata indah dari Maulana Jalaluddin Rumi “Hidup dari cahaya matahari dan menghubungkan kita kepada aspek-aspek Realitas yang berbeda dari realitas-realitas yang terbuka bagi akal kita secara analitis dan penginderaan”. Sesungguhnya mata batin adalah sesuatu yang “menyaksikan” dan “laporan-laporannya” tidak pernah salah jika ditafsirkan sebagaimana mestinya. Ini tak berarti bahwa mata batin itu adalah sebuah modus berhubungan dengan Realitas itu dimana sensasi-sensasi fisiologis tak berperan. Namun pengalaman yang dibentangkan di depan kita sama nyata dan konkritnya seperti setiap pengalaman fisik. Untuk menerangkannya sebagai pengalaman “spiritual” “mistis” maupun “supernatural” tak mengurangi nilainya sebagai sebuah pengalaman.
Seorang ilmuwan Barat dididik untuk mengevaluasi alam menurut cara dan istilah yang dapat dikuantifikasikan secara tepat. Pengetahuannya harus diverifikasi dengan eksperimen fisik yang terkontrol dan harus berdasarkan hukum-hukum atau pola-pola yang sesuai dengan sifat khasnya. Tapi jika dengan mandat ilmiahnya itu meniadakan “metafisika” sebagai sebuah bidang penyelidikan, maka ia sebenarnya telah mencap sebagian besar dari pengetahuan, pengalaman, dan intuisi manusia sebagai hal yang tak perlu dipermasalahkan secara serius.

2.1  Arti dan Perbedaan Antara Struktur Pengetahuan , Ilmu Dan Filsafat


Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Dalam perkembangannya pengetahuan manusia berdiferensiasi menjadi empat cabang utama, filsasat, ilmu, pengetahuan dan wawasan. Untuk melihat perbedaan antara empat cabang itu, saya berikan contohnya: Ilmu kalam (filsafat), Fiqih (ilmu), Sejarah Islam (pengetahuan), praktek Islam di Indonesia (wawasan). Bahasa, matematika, logika dan statistika merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, tetapi keempatnya bukanlah ilmu. Keempatnya adalah alat ilmu.

Setiap ilmu (sains) adalah pengetahuan (knowledge), tetapi tidak setiap pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah semacam pengetahuan yang telah disusun secara sistematis. Bagaimana cara menyusun kumpulan pengetahuan agar menjadi ilmu? Jawabnya pengetahuan itu harus dikandung dulu oleh filsafat , lalu dilahirkan, dibesarkan dan diasuh oleh matematika, logika, bahasa, statistika dan metode ilmiah. Maka seseorang yang ingin berilmu perlu memiliki pengetahuan yang banyak dan memiliki pengetahuan tentang logika, matematika, statistika dan bahasa. Kemudian pengetahuan yang banyak itu diolah oleh suatu metode tertentu. Metode itu ialah metode ilmiah. Pengetahuan tentang metode ilmiah diperlukan juga untuk menyusun pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk menjadi ilmu dan menarik pengetahuan lain yang dibutuhkan untuk melengkapinya.
Untuk bepengetahuan seseorang cukup buka mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan, sampaikan. Adapun untuk berilmu, maka metodenya menjadi lebih serius. Tidak sekedar buka mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan, sampaikan, secara serampangan. Seseorang yang ingin berilmu, pertama kali ia harus membaca langkah terakhir manusia berilmu, menangkap masalah, membuat hipotesis berdasarkan pembacaan langkah terakhir manusia berilmu, kemudian mengadakan penelitian lapangan, membuat pembahasan secara kritis dan akhirnya barulah ia mencapai suatu ilmu. Ilmu yang ditemukannya sendiri.
Apa maksud “membaca langkah terakhir manusia berilmu” ? Postulat ilmu mengatakan bahwa ilmu itu tersusun tidak hanya secara sistematis, tetapi juga terakumulasi disepanjang sejarah manusia. Tidak ada manusia, bangsa apapun yang secara tiba-tiba meloncat mengembangkan suatu ilmu tanpa suatu dasar pengetahuan sebelumnya. Katakanlah bahwa sebelum abad renaisansi di Eropa, bangsa Eropa berada dalam kegelapan yang terpekat. Karena larut dalam filsafat skolastik yang mengekang ilmu dan peran gereja.
 Para ilmuwan dan para filsafat abda itu tentu memiliki guru-guru yang melakukan pembacaan terhadap mereka tentang sampai batas terakhir manusia berilmu di zaman itu. Ilmu kimia abad modern sekarang adalah berpijak pada ilmu kimia, katakanlah abad 10 masehi yang berada di tangan orang-orang Islam. Dan ilmu kimia di abad 10 masehi itu tentu bepijak pula pada ilmu kimia abad 3500 tahun sebelum masehi, katakanlah itu misalanya dari negri dan zaman firaun.
 Jadi seseorang yang ingin berilmu manajemen, misalnya, maka ia harus mengumpulkan dulu pengetahuan-pengetahuan mnajemen yang telah disusun sampai hari kemarin oleh para ahli ilmu tersebut dan merentang terus kebelakang sampai zaman yang dapat dicapai oleh pengetahuan sejarah.
Cara praktis, cepat, kompatibel, kredibel, aksesibel, dan lain-lain bel positif lainnya, untuk berilmu ialah dengan sekolah formal, dari SD hingga S3.
2.2   Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah

Pada hakikatnya pengetahuan ilmiah suatu disiplin keilmuan dapat dibedakan antara pikiran dasar yang melandasi suatu pemikiran dan tubuh pengetahuan teoritis yang dibangun di atas pikiran dasar tersebut. Pikiran dasar itu pada pokoknya terdiri dari postulat, asumsi,dan prinsip.
Postulat merupakan anggapan tentang suatu obyek yang merefleksikan sudut pandang tertentu. Anggapan ini tidak terkait dengan kriteria benar atau salah melainkan dengan setuju atau tidak setuju denga postulat yang diajukan. Wawasan nusantara, umpamanya, adalah postulat bangsa Indonesia dalam memandang keberadaanya dalam bertanah-air berbangsa, dan bernegara.
Disebabkan oleh hakikatnya maka posulat merupakan anggapan yang tidak perlu diveripikasi secara enperis untuk menentukan benar atau salah. Ponstulat merupakan sudut pandang yang spesifik dari seorang ilmuwan dalam membangun tubuh pengetahuan teoretisnya. Setiap disiplin keilmuan mempunyai kemampuan ponstulat yang khas yang berbeda dengan disiplin keilmuan yang lain disebabkan cara pandang yang berbeda pula. meskipun obyek yang menjadi telaahanya adalah sama.
Sering terdapat pendapat dikalangan ilmuan bahwa asumsi sudah tidak usah lagi diuji melainkan diterima begitu saja (taken for graned). Hal ini adalah sangat tidak menguntungkan sebab sebuah asumsi belum tentu benar atau cocok dengan suatu kondisi tertentu. Asumsi yang berbeda akan menghasilkan tubuh pengetahuan yang berbeda pula yang pada giliranya akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Ilmu- ilmu social yang ada di Indonesia mengalami kemandekan dan impoten dalam menyelesaikan berbagi permasalahan disebkan ketidak mampuan ilmuan kita untuk menghasilkan posulat dan asumsi yang mencerminkan keadan di Indonesia.
Diatas postulat dan asumsi maka di bangun prinsip. Prinsip merupakan pernyatan dasar mengenai ‘tindakan’ atau ‘pilihan’. Prinsip ekonomi, umpanya, yang menyatakan tindakan manusia untuk ‘memperoleh kepuasan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya’ merupakan dasar atau landasan bagi kegiatan manusia selaku mahkluk ekonomi. Sebagai contoh lain, ‘pemberian obat secara rasional’ mungkin dapat di kategorikan sebagai prinsip dalam ilmu kedokteran.
Postulat, asumsi, dan prinsip ini digolongkan sebagai pikiran dasar dari sebuah pengetahuan ilmiah. Diatas pikiran dasar ini di bangun tubuh pengetahuan teoretis yang secara ekstensif mencoba mendeskripsikan, menjelaskan, memperediksikan, dan mengontrol berbagai gejala dari obyek telaahan sebuah disiplin keilmuan. Untuk mengembangkan tubuh pengetahuan teoritis ini sebuah disiplin keilmuan ‘meminjam atau menerapkan’ unsur pengetahuan dari berbagai disiplin ke ilmuan yang lain. Ini adalah hal yang wajar yang biasa di lakukan. Masalahnya bahwa sebuah di siplin ke ilmuan yang mandiri harus bisa menentukan pengetahuan mana yang bersifat ‘khas milik disiplinya’ dan mana yang di pinjam atau di terapkan’ dari disiplin keilmuan yang lain.
Sebuah disiplin keilmuan yang mandiri harus mempunyai perangat pikiran dasar utama yang bersifat khas yang memberikan ‘payung’ atau ‘kerangka konsetual yang bersifat makro’. Kerangka konseptual yang bersifat makro ini di kembangkan pada tingkat tubuh pengetahuan teoritis yang bersifat khas pula.
 Baru dalam mengisi kerangka konseptual yang bersifat makro ini kita dapat meminjam atau menerapkan unsur pengetahua dari disiplin lain sesuai dengan kebutuhan. Ilmu ‘manajemen, umpanya, meminjam teori motivasi dari psikologi untuk mengkaji hubungan antara kebutuhan dan tindakan manusia dalam konteks manajemen. Demikian pula ilmu keperawatan meminjam unsur pengetahuan dari mikrobiologi sebagai dasar bagi tindakan keperawatan yang bersifat higienis. Dipihak lain ilmu ke dokteran meminjam pengetahuan dari mikrobiologi untuk tujuan yang lain umpanya untuk diagnosis dan terapi. Hal ini dapat memberi gambaran bahwa pinjam-meminjam antara pengetahuan adalah biasa dan tidak menimbulkan anarki serta kebingungan selam kita bisa mengidentipikasikan kerangka konseptual makro yang merupakan payung bagi penyusunan tubuh pengetahuan teoritis masing-masing.
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Sesuatu yang ilmiah itu mempunyai sifat tidak absolut. Sehingga sesuatu yang ilmiah dapat disangkal atau disanggah dan diperbaiki.
Struktur Pengetahuan Ilmiah :
1. Hipotesa : Hipotesa merupakan suatu perkiraan awal yang belum diuji. Biasanya hipotesa diambil berdasarkan teori-teori umum yang mendukung.
2. Teori : Suatu penjelasan yang menjelaskan tentang sesuatu, akan tetapi teori masih dapat disanggah atau disangkal.
3. Hukum : Teori yang sudah tidak dapat disanggah atau disangkal lagi. Akan tetapi, apabila terdapat suatu teori yang lebih umum daripada hukum tersebut, maka hukum tersebut tidak benar lagi dan digantikan oleh teori yang baru tersebut.
4. Aksioma/postulat : Suatu pernyataan yang sudah tidak perlu dibuktikan lagi. (dianggap sudah benar)
5. Prinsip : Sesuatu yang mendasari sesuatu yang lain.
6. Asumsi : Sesuatu yang dianggap sudah benar, tetapi perlu didampingi dengan fakta empiris.

Sains adalah suatu sistem institusi dengan keunggulan dan kelemahan dari semua organisasi manusia.  Agar hasil baru diterima dalam kumpulan pengetahuan manusia, maka tidaklah cukup hanya menjadi dalil logika yang memenuhi tabel kebenaran yang tepat, atau model terapan yang memenuhi kriteria uji biasa, namun harus juga menjangkau status yang dibuat.  Seperti beberapa sistem sosial lainnya, sistem ini telah menetapkan norma dan sangsi.  Bagi Kuhn diterimanya teori-teori ilmiah yang secara radikal baru mengharuskan revolusi ilmiah, yang berhubungan dengan revolusi politik, dimana gagasan-gagasan baru menggantikan yang lama, bukan dengan kekuatan alasan, tetapi dengan kapasitas gagasan-gagasan baru untuk menarik para pengikut baru, dan ketidakmampuan gagasan-gagasan lama untuk melakukan hal yang sama.
Pendeknya, disiplin-disiplin melibatkan kelompok-kelompok orang kreatif yang saling berinteraksi.  Produksi pengetahuan memiliki aspek-aspek psikologi dan sosiologi, dan juga logika.  Disiplin-disiplin sederhananya bukan produk dari mesin-mesin rasional.
Setiap disiplin, dan setiap teori dalam suatu disiplin, memiliki domain, objek-objek dimana operasi-operasi intelektual dari peneliti dilakukan.   Domain biologi, sebagai contoh, adalah kumpulan makhluk-makhluk hidup dan lingkungannya.  Domain fisika energi tinggi melibatkan prilaku partikel-partikel inti.  Domain teori pembelajaran mencakup prilaku orang-orang yang berkonfrontasi dengan stimuli, masalah-masalah verbal, dll.
Perbedaan antara domain dan pengetahuan mengenai domain itu penting, tetapi seringkali diabaikan, yang menuntun pada kebingungan semantik.  Para ahli teori kurikulum terkadang menggunakan istilah ‘materi' untuk mengartikan ‘domain'. Oleh karena itu, mereka membuat pernyataan-pernyataan seperti: ‘Materi biologi adalah makhluk-makhluk hidup'.  Tidak ada yang salah dengan pernyataan istilah ‘materi', tetapi ini tidak konsisten dengan penggunaan umum istilah yang berarti ‘yang akan dipelajari oleh siswa'.  Refleksi momen akan memperlihatkan bahwa seorang siswa biologi tidak dapat mempelajari makhluk-makhluk hidup; apa yang dapat dipelajarinya adalah pernyataan-pernyataan pengetahuan mengenai makhluk-makhluk hidup. 

2.3 Klafikasi Pengetahuan ilmu alam, ilmu Sosial dan Humaniora


Ilmu alam (Inggris:natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.
Tapi Cicero menggunakan istilah humanitas dalam karyanya “On The Orator” dalam pngertian sejenis rencana pendidikan khusus. Aulus Gellius seorang ahli gramatik latin mengidentikkan arti “humanitas” (latin) dengan kata “Paideia” (Yunani). Paideia adalah istilah yang digunakan untuk suatu pendidikan umum dan liberal demi mempersiapkan orang merdeka menjadi manusia dan warga Negara yang baik.
Paideia muncul pada pertengahan abad ke-5 sebelum Masehi. Pada awktu itu para Sophist dengan tekun memberi bimbingan privat bagi orang-orang muda di Negara-negara kota Yunani. Dalam perkembangan selanjutnya oleh orang Yunani dan para pengemar retorik Romawi paideia atau humanitasitu ditetapkan sebagai program pendidikan klasik.
 Indonesia adalah Negara yang sedang berkembang dan karena itu peranan Ilmu pengetahuan sangat penting bagi kemajuan disegala bidang kehidupan baik Ilmu pengetahuan alam (science) maupun Ilmu-ilmu sosial sangat penting. Keseimbangan antara Ilmu pengetahuan alam (science) dan Ilmu-ilmu sosial sangat diperlukan bagi liberasi dan humanisasi Teknologi di Indonesia.Namun dalam kenyataannya seringkali ada perbedaan bahkan benturan yang tajam antara Ilmu-ilmu alam (sciense) dengan Ilmu-ilmu Sosial.
Mengutip pernyataan “Mesthene” bahwa Teknologi tidak dapat selalu menghadirkan kebaikan, mengimplementasikan betapa pentingnya peran penelitian Ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam perkembangan Teknologi. Kami bahkan menyebut sebagai sebuah imperative mengingat bahwa tanpa kontribusi dari penelitian Ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam pengembangan Teknologi di masa depan seperti yang terjadi selama ini.
 Maka “kekhawatiran Faustian” bahwa pemberian kepercayaan yang terlalu besar kepada perkembangan Teknologi sama maknanya dengan membuat perjanjian dengan setan akan dapat benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Ada beberapa alasan sangat mendasar mengapa penilitian Ilmu-ilmu sosial dan humaniora tentang perkembangan Teknologi di Dunia pada umunya dan di Indonesia secara khusus saat ini dan dimasa mendatang merupakan sebuah imperative, ada beberapa alasan yang mendasar yaitu :
Alasan yang pertama mengalir turun dari kenyataan bahwa “ suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, dan siap atau tidak siap”, meminjam ungkapan presiden Suharto yang sangat terkenal di masa jayanya, lambat atau cepat masyarakat Indonesia akan mengalami transformasi sosial menuju sebuah sistem Teknologi atau teknokrasi sebagai konsekuensi mengalirnya banjir alih Teknologi dari Negara-negara industri maju, jikalau bukan oleh karena keberhasilan para ahli Teknologi Indonesia di dalam pengembangan Teknologi di masa depan.
Alasan yang kedua sangat erat berkaitan dengan dampak perkembangan Teknologi terhadap umat manusia (individu, masyarakat, dan lingkungan).

Belajar dari sejarah panjang pengalaman Negara-negara maju, kita mengetahui bahwa perkembangan Teknologi dan Ilmu pengetahuan yang telah melahirkannya tidak selalu menghasilkan “kebaikan” (tonic potentialities). Akan tetapi seringkali juga melahirkan “persoalan”(toxic potentialities). Lebih dari itu, di dalam era teknokrasi di bawah tekanan ekspansi globalisasi ultraliberal/neoliberal saat ini dan dimasa mendatang, ketika rasionalitas manusia telah dan akan semakin jauh dihegemoni dan didominasi oleh “rasionalitas teknik” (meminjam ungkapan kaum pos-modernis), perkembangan Teknologi bahkan seringkali memiliki kecendrungan lebih banyak menghasilkan kemudharatan dari pada kecendrungannya menghasilkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia, masyarakat, dan lingkungan.
Alasan yang ketiga tentang pentingnya peran penelitian Ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam pengembangan Teknologi, sesungguhnya merupakan remifikasi dan derivasi dari alasan kedua, bertalian sangat erat dengan pentingnya pemahaman tentang “kaitan-kaitan ke depan” (forward linkages)dan “kaitan-kaitan ke belakang” (backward linkages) yang menghubungkan perkembangan Teknologi di satu sisi dengan oprasi dan perkembangan sistem Sosial, Ekonomi, dan Politik yang menjadi konteks dan konsekuensi dari penciptaan dan pemanfaatannya di sisi yang lain.
Alasan ini sungguh sangat penting oleh karena dengan demikian peluang lebih besar bagi terjadinya komunikasi dan dialog di antara para ahli “Ilmu-ilmu keras” (baca Ilmu-ilmu kealaman dan Ilmu-ilmu teknik)dan para ahli Ilmu-ilmu lunak (baca Ilmu-ilmu sosial dan humaniora) akan menjadi semakin terbuka, sehingga perkembangan Teknologi yang mereka hasilkan tidak hanya berupa “Teknologi-Teknologi keras” (hard technologies) yang baik dan tidak peduli terhadap potensi toksik yang dapat mereka timbulkan, malainkan juga “Teknologi-teknologi lunak” (soft technologies) yang sangat peduli akan kemungkinan terjadinya dampak toksik yang mereka produksi dan reproduksi terhadap kehidupan umat manusia, masyarakat, dan lingkungan saat ini dan dimasa yang akan datang.

1. Bahwa Ilmu-ilmu sosial dan humaniora itu tak dapat dipisahkan dari Ilmu-ilmu alam (science) karena keduanya saling memberikan manfaat timbal balik, maksudnya :
Kemajuan Ilmu-ilmu alam dan Teknologi memberikan “sumbangan” bagi kehidupan manusia dan juga bagi perkembangan Ilmu-ilmu sosial. Tetapi sebaliknya hasil penelitian Ilmu-ilmu sosial juga memberikan “sumbangan” bagi perkembagan Ilmu alam (science).

2. Dampak perkembangan Teknologi terhadap umat manusia (individu, masyarakat dan juga lingkungan hidup) sangat besar. Seringkali tidak saja membawa nilai positif kemaslahatan (tonic potentialities) tetapi juga melahirkan kemudharatan (toxic potentialistic). Contoh yang dapat kita lihat di Indonesia adalah perkembangan Industrialisasi dengan segala dampak ikutanya berupa pencemaran lingkungan, udara, laut, maupun tanah dan makhluk hidup lainya.
3. Revolusi perkembangan Teknologi informasi mempunyai dampak yang besar bagi transformasi masyarakat dan kehidupan umat manusia, perkembangan Teknologi dan informasi itu membawa pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia seperti : Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Politik, Sosial Budaya dll. Baik dampak positif maupun dampak negative seperti yang kita lihat pada skala Global maupun di Indonesia. Peran politik Teknologi bagi kehidupan umat manusia sangat besar dan berkembang dari waktu ke waktu serentak dengan itu juga membawa berbagai masalah yang ditimbulkan. Bila Teknologi dilihat sebagai hasil dari produksi dan reproduksi Proses-proses Sosial, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan.

4. Expansi globalisasi Kapitalisme (menurut Schiller Webster, 1995) akan semakin jauh memasuki sendi-sendi kehidupan manusia di masa yang datang, sehingga akan terjadi Perubahan-perubahan yang mendasar dalam kehidupan masyarakat global maupun masyarakat Lokal termasuk Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang.

5. Peran kristis Ilmu-ilmu sosial dan humaniora yakni menciptakan “keseimbangan” antara Teknologi konvensional yang “keras” dengan system Teknologi alternative yang “lunak” sehingga terjadi dampak lingkungan dan sosial yang rendah. Bagaimana caranya? Menurut hemat kami dibutuhkan Peran kritis Ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk melakukan liberasi dan humanisasi Teknologi dan Ilmu pengetahuan, hal ini membutuhkan proses yang panjang dan serius dari semua pihak khususnya para cendekiawan.
6. Peran para Cendekiawan menurut Prof. Dr. J. Nasikun seorang guru besar Fisipol Universitas Gadjah Madah yaitu untuk melakukan :
• Refleksi kritis mengenai peran dan fungsi kaum Cendekiawan dalam Pembangunan Teknologi saat ini maupun masa depan.
• Salah satu hal yang sangat penting dari pekerjaan ini adalah membangun “objectifitas” dalam Ilmu pengetahuan.
• Para Cendekiawan mesti menjadi “Juru bicara” dari Kelompok-kelompok atau klas sosial yang kepentingan mereka diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Para Cendekiawan dari latar belakang yang Berbeda-beda itu mesti membangun komitmen dan kerjasama, dalam melihat Persoalan-persoalan di zaman ini (abab 21) dengan lebih kritis dan jujur. Untuk kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan kemanusiaan baik dalam konteks Indonesia maupun dalam konteks Global.

Pentingnya peran kritis Ilmu-ilmu sosial dan humaniora bagi liberasi dan humanisasi Teknologi melalui perkembangan kurikulum di tingkat Perguruan Tinggi dan Agenda penilitian jelas tidak dapat diragukan, akan tetapi itu saja belum cukup karena aktualisasinya memerlukan mediasi peran para cendekiawan yang dihasilkannya. Oleh karena itu untuk melakukan refleksi kritis mengenai peran dan fungsi kaum cendekiawan didalam pengembangan Teknologi dibawah tekanan ekspansi globalisasi ultraliberal yang semakin keras saat ini dan dimasa depan baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Untuk melakukan pekerjaan yang pelik itu adalah sangat penting untuk memulainya dengan mempersoalkan secara kritis konsep “obyektivitas” di dalam Ilmu pengetahuan.
BAB 3
PENUTUP

3.1   kesimpulan
Akhirnya dari beberapa uraian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a.      Agama Islam mengembangkan sebuah kesadaran yang tinggi mengenai kedudukan akal sebagai inti dalam tradisi-tradisi agama dan dalam mempertahankan sikap kritis terhadap ilmu pengetahuan.

b.      Pengetahuan adalah sebagai sebuah pohon, sedang berbagai sains itu adalah cabang-cabangnya yang tumbuh dan mengeluarkan dedaunan beserta buah-buahan sesuai dengan sifat pohon itu sendiri.

c.       Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti


[1] Drs. Klaeny HD,MA,islam,ilmu pengetahuan dan teknologi,PT.Bumi Alsaras,Jakarta,2000.Cet III
[2] Drs.Amin suyitno,M.Pd,Ilimu alamiah dasar,semarang,2002,hal 4
[3] Ir. R. H. A. Sahirul Alim, M.Sc. Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi dan Islam, Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1999.
[4] Ir.R.H.A.Sahirul Alim,M.SC. menguak keterpaduan sains,teknologi islam,Titian Illahi Press,hal 67

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Semoga Bermanfaat bagi pembaca sekalia.. .

Lailahaillallah.. Muhammadurrasulullah..

Lailahaillallah.. Muhammadurrasulullah..

SLIDER WIDGET